LANGITKU HARI INI TANPA SUARA


Oleh :Prof. Dr. Minnah El Widdah, M.Ag

 

RAGAM NARASI. ID -, Warna langit  sama seperti kemaren, menguning. Kuning yang tidak nyaman dipandang berlama-lama karena akan terasa perih di mata. Belum lagi aroma asap yang menyengat membuat sesak di dada. Entah dimana pembakaran itu terjadi, namun angin yang mengirimkan kepadaku, seolah-olah ingin berbagi. Aroma ini membuatku sadar bahwa jarak tidak ada artinya. 

Hari ini tetap sunyi, sepertinya semua sepakat memilih untuk berdiam diri, biasanya kawanan burung gereja ramai riuh pulang ke peraduan bersamaan dengan tawa belibis di sela ranting yang patah. Langit kunig seperti menyuruh seluruh makhluk hidup untuk menahan. Menahan nafas, menahan suara, menahan sesak  dan bahkan menahan hidup.  

Semesta mulai beranjak  senja. Langit berwarna merah. Bukan warna romantis seperti pelukis melukiskan senja penuh romantis. Merah basi dan membuat mata perih. Sulit kiranya untuk menjelaskan kalau merah langit merupakan pantulan kabut asap yang sebenarnya selalu hadir di setiap penghujung waktu atau mungkin bumi telah lelah bahkan menggerutu kepada manusia bahwa kita tak pernah berterimakasih dan memberi apresiasi kepadanya sehingga adanya frustrasi yang berkepanjangan. Amarah meriuh.  

Kadang aku merenung, apakah kondisi ini merupakan akhir dari kisah yang terkisah ? Langitku tak lagi indah. Atau mungkin sejak tahun 2015 kabut pertama menyelimuti langitku, asap memang benar-benar tidak pergi. Di sini, aku kembali mendongak, bukan lagi senja yang berwarna merah romantis, tapi kuning yang lusuh diiringi aroma sisa pembakaran yang menguat.  

Aku teringat kalimat bahwa kalau mau tahu perasaan Tuhan, lihatlah langit. Dalam maknanya. Langit adalah cerminan bumi. Sekarang bumi marah maka terlihat dari warna langit. Langit berubah wujud, menyisakan aroma pembakaran yang menyesakkan dada serta mengirimkan perih ke mata. Langit kecewa. Meratap dalam diam.  

Saat  membuka jendela, hati selalu bergumam, ini bukan normal dan juga bukan takdir. Aku meyakini ini adalah sebuah akibat, akibat dari sebab yang lain. Laraku menggantung di langit yang mulai beranjak kelam, tapi aroma tetap tak berubah. Langit kelamku juga tak lagi indah. Melewati malam tak jua merasakan keindahan seperti dulu. Aku rindu birunya langit sehingga ketika malam, akan hadir bintang-bintang bertabur indah. 

Kini aku merasakan rindu. Rindu pada birunya langit. Rindu pada kotaku yang tidak membuat dada sesak. Rinduku adalah rindu yang sunyi. Rindu yang mengendap seperti partikel asap yang masuk ke paru-paru secara perlahan-lahan. Sesak. Rinduku sesak. Aku tak lagi berani mendongak melihat langit saat kelam menjelang. Kutahu..langitku juga sedang menangis meski  tanpa air mata. Menyisakan perih mungkin ini pertanda langitku menitipkan pilunya di mataku. 

Kadang aku juga berfikir bahwa langit tak lagi indah memberi nasehat bahwa keindahan haruslah dijaga. Birunya langit adalah amanah Tuhan. Biru akan hilang seiring kita tidak menjaganya. Aku menyadari bahwa kesedihan hatiku ini pertanda hatiku bernyawa daripada mereka yang tidak merasakan kesedihan ketika melihat langit yang tak lagi indah. Ini berkaitan dengan hati nurani. Aku percaya bahwa Tuhan menghadirkan rindu dan kesedihan tentu ada tujuan, yakni kita diminta untuk bergerak mencari biru yang hilang. Yang hilang itu adalah langit biru kotaku, yang kini kuning, berbau asap dan tanpa suara. (*) 

Recommended

Highlights

Populer